Luka ini terlalu lama terpendam
Dan aku pun terbungkam
Larut dalam diam
Tapi bukan dendam

Hanya cinta yang kuharapkan
Bukan sekedar belas kasihan yang berlebihan
Diatas sejuta penderitaan
Biarkan derita ini sendiri kurasakan
Karena ku yakin luka ini lah memberiku kekuatan
Dalam ketegaran dan ketabahan
Dan aku yang kini sedang mencoba untuk berdiri dari sisa-sisa keterpurukan dan kebencian.
Dan aku yang kini sudah belajar mengerti bagaimana cara membagi kasih.
Mereka tak pernah mengerti.
Sungguh perih terasa dihati.
Seakan tak ada masa untuk berbela diri
Bila ini akhir dari perjalalananku
Tak mengapa asal dunia masih sanggup tersenyum
Meski tanpa aku bersenandung
Dulu kau hiasi malamku
dengan puisimu
Dan pagiku
kau dekap lewat setetes embun
Lalu senjaku
kau hiasi dengan cahaya mentari
yang kian menipis dalam sudut bumi kotamu itu
dan perlahan-lahan menghilang dalam keheningan malam
Semua begitu indah
Tapi kini semua menghilang.

Apa yang bisa aku lakukan sekarang ini.
Setelah cobaan demi cobaan menerkam dan mewarnai garis kegelisahan sepanjang kehidupan berlalu perlahan..
Apa yang harus aku lakukan kini
Agar aku masih tetap bertahan dalam terjalnya sebuah harapan menuju kebahagiaan...
Bukankah kau punya hati untuk merasa?
Hati yang kau tancapkan kedalam jantung hidupku
kini melepuh oleh janjimu.
Janjimu yang berujung pada sebuah kata dusta.
Dusta dalam kemunafikanmu mengkhianati cintaku
Bukankah kau punya jiwa?
Jiwa untuk mengerti dan memahami betapa hancur…
hancur dan hancurnya hidupku kini oleh kesombongan jiwamu.
Betapa segala rasa yang kupunya
kini melebur dalam gundukan tanah memanas bara amarahku
Aku tak ingin terlalu lama tenggelam dalam amarahku.
Karena itu kini aku diam.
Tapi apakah kau tak mengerti
betapa tubuhku terasa tersayat-sayat oleh pecahan-pecahan hati ku ini?

Aku tak kuasa menahan perih pedih ini sendiri.
Namun aku akan tetap bertahan dalam sakit ini.
Sakit darimu untukku..
Dan aku pun terbungkam
Larut dalam diam
Tapi bukan dendam

Hanya cinta yang kuharapkan
Bukan sekedar belas kasihan yang berlebihan
Diatas sejuta penderitaan
Biarkan derita ini sendiri kurasakan
Karena ku yakin luka ini lah memberiku kekuatan
Dalam ketegaran dan ketabahan
Dan aku yang kini sedang mencoba untuk berdiri dari sisa-sisa keterpurukan dan kebencian.
Dan aku yang kini sudah belajar mengerti bagaimana cara membagi kasih.
Mereka tak pernah mengerti.
Sungguh perih terasa dihati.
Seakan tak ada masa untuk berbela diri
Bila ini akhir dari perjalalananku
Tak mengapa asal dunia masih sanggup tersenyum
Meski tanpa aku bersenandung
Dulu kau hiasi malamku
dengan puisimu
Dan pagiku
kau dekap lewat setetes embun
Lalu senjaku
kau hiasi dengan cahaya mentari
yang kian menipis dalam sudut bumi kotamu itu
dan perlahan-lahan menghilang dalam keheningan malam
Semua begitu indah
Tapi kini semua menghilang.

Apa yang bisa aku lakukan sekarang ini.
Setelah cobaan demi cobaan menerkam dan mewarnai garis kegelisahan sepanjang kehidupan berlalu perlahan..
Apa yang harus aku lakukan kini
Agar aku masih tetap bertahan dalam terjalnya sebuah harapan menuju kebahagiaan...
Bukankah kau punya hati untuk merasa?
Hati yang kau tancapkan kedalam jantung hidupku
kini melepuh oleh janjimu.
Janjimu yang berujung pada sebuah kata dusta.
Dusta dalam kemunafikanmu mengkhianati cintaku
Bukankah kau punya jiwa?
Jiwa untuk mengerti dan memahami betapa hancur…
hancur dan hancurnya hidupku kini oleh kesombongan jiwamu.
Betapa segala rasa yang kupunya
kini melebur dalam gundukan tanah memanas bara amarahku
Aku tak ingin terlalu lama tenggelam dalam amarahku.
Karena itu kini aku diam.
Tapi apakah kau tak mengerti
betapa tubuhku terasa tersayat-sayat oleh pecahan-pecahan hati ku ini?

Aku tak kuasa menahan perih pedih ini sendiri.
Namun aku akan tetap bertahan dalam sakit ini.
Sakit darimu untukku..






